Sorry, we already movin out!

January 19th, 2008 by donlenon

Sorry



http://donlenon.blogspot.com

cerita seorang reporter ber-ini-sial AGA

December 18th, 2007 by donlenon

assalammualaikum,

akhirnya sempat juga
meng-up date blog setelah beberapa saat vakum. tidak banyak hal yang bisa saya
sampaikan dalam blog ini. mungkin karena baru dua minggu ini saya tinggal di
"wilayah" baru bernama Surabaya. atau mungkin juga karena dalam dua
minggu ini tercatat baru tiga kali saya mencuci baju dengan tangan sendiri?!
(suatu catatan yang gak penting banget gitu loh..) 

walhasil.. karena
minimnya pengalaman itulah, akhirnya sebuah ide muncul untuk
"mencomot" pengalaman keseharian temen saya bernama Agung Putu
Iskandar. baiklah sebelum kita ngomongin sobat yang satu ini, mending kita
kenalan dulu deh ma anaknya.

Banyak orang yang
salah sangka dengan nama anak yang satu ini. meski bernama Agung (pake
"putu" lagi), dalam darah nya nggak ada kandungan bali sedikit pun.
kalo kamu-kamu bertanya padanya, bakalan dijawab kalo nama itu artinya kurang
lebih seperti ini.. "Agung kuwi Putune Iskandar" (dalam foto: anak pake jaket biru paling kiri)

Pa110078edit

yup! seperti itulah
anaknya, konyol, ceplas-ceplos, “eksplosif”, dan suka melakukan tingkah-tingkah
konyol (seperti tiba-tiba doi nge-rap di dalam kelas) sampai-sampai dikelas
sering dipanggil Pongky (gak jelas juga sih kenapa dia mendapat panggilan itu).
banyak banget cerita yang kami (pongky dan saya) buat di surabaya ini. sebut
saja saat pertama saya menjajakan kaki di surabaya, kamar kos anak inilah yang
menjadi tempatku menghabiskan malam.

Saat berlalunya hari
pertama di surabaya aja udah terjadi pengalaman yang cukup unik di kos anak
ini. begini awal ceritanya…

hari itu cuaca
surabaya (seperti biasa) panas. mungkin karena hal itulah ia terdorong untuk
mencuci baju pagi-pagi. Rencananya hari itu dia bakal nganter saya dan tanto
(anak jogja yang juga terdampar di surabaya bareng saya) nyari kos-kosan. Setelah
kucek sana kucek sini, akhirnya pekerjaan mencucinya pun kelar. Dan kami-kami
keliling surabay nyari kos-kosan.

Setelah berkeliling
beberapa putaran, akhirnya dapatlah sebuah kamar berukuran 6X3 meter di daerah
ketintang baru, surabaya. Kami cukup beruntung mendapat kos di sini, sebab pas
kami menemukan rumah itu, hujan sedang deras-derasnya mendera surabaya, jadi
sekalian deh kami berteduh. Setelah istirahat sebentar dan bercengkerama dengan
“bapak” kostnya (yang bernama Mas Sigit), kami pun cabut pulang.

Sejauh ini
perjalanan dan kejadian yang dialami si pongky ini masih “normal”, hingga dia
sampai di kos-nya. Setelah tiba di kamarnya, dia teringat pada pakaiannya yang
dia jemur tadi pagi. Sejurus kemudian dia keluar kamar dan menuntaskan
urusannya itu. beberapa saat kemudian dia pun kembali, namun kali ini raut
mukanya sedikit beda. Sambil berdiri di depan pintu kamar, bibirnya mengkerut
dan matanya Cuma kedap-kedip. Lalu serta merta dia nyeletuk. “Aduh, kumbahanku
ilang pek!” (aduh, jemuranku hilang men!), katanya dengan nada pilu.

Peristiwa ini sempat membuat geger ranah
per-kos-kos-an di sana, sebab yang hilang itu bukan sembarang jemuran.
Melainkan celana kolor (alias CD) si pongky yang tiba-tiba raib di telan bumi.
Dari segi kuantitas pun kejadian ini cukup mencengangkan yaitu… 5 buah CD
hilang dengan sukses. Wow, sebuah rekor yang cukup mencengangkan untuk ukuran kos-kosan
laki-laki di surabaya. sampai detik saya mengetik blog ini pun, CD-CD itu belum
ketahuan di mana rimbanya. Apakah ini ada hubungannya dengan misteri kolor ijo?
hanya Tuhan yang tahu… (diselingi sontrek akhir film mistery)

Gizi Buruk

November 18th, 2007 by donlenon

Asupan gizi di republik indonesia ini masih terbilang memprihatinkan. Tercatat sampai tahun 2006 terdapat 2,3 juta penderita gizi buruk (UNICEF). Dan nampaknya catatan pengidap gizi buruk itu akan bertambah, setelah belum terdeteksinya dua orang dari Yogyakarta, yang mengalami gizi buruk di Surabaya, beberapa pekan yang lalu. Bahkan penderitaan dua orang ini nampaknya cukup parah, hingga ke taraf berhalusinasi.
Sebut saja dua orang ini bernama donlenon dan ragil. Dua pengacara (pengangguran banyak acara) lulusan dari universitas swasta di Yogyakarta. Dua orang ini bertandang ke Surabaya, guna mengikuti tes masuk ke sebuah harian nasional yang kebetulan bermarkas di Surabaya.
Dan bukan hal yang aneh, jika pengidap gizi buruk ditambah dengan dehidrasi bakal mengakibatkan halusinasi. Teori ini bisa kita patenkan dengan rumus seperti ini:
Gizi buruk + dehidrasi = halusinasi.

Nah, apa penyebab gizi buruk?
Yang jelas, pola makan seseorang memiliki andil paling yang cukup besar dalam menimbulkan kurangnya asupan gizi ini. kita bisa menelitinya dari sampel pertama, si donlenon. Anak rantau ini dalam sehari makan paling banyak 3 kali (udah standar deh..), tapi biasanya hanya mengisi perut 2 kali sehari, itupun dengan asupan gizi yang sangat minim. Pagi makan nasi pake lauk tempe, malem makan nasi kucing di tambah wedang jahe (kalah bergizi ma cihuahua peliharaannya paris hilton).

Lha trus yang menyebabkan dehidrasi?
Dehidrasi berasal dari kata de dan hidran. De artinya kurang, hidran artinya selang aer. Jadi dehidrasi berarti kurang (selang) aer (ini ngasal aja lho)… Intinya kita jadi lemes karena kurang aer. Dan berhubung surabaya pada saat itu mengalami musim panca roba, jadi bisa dibayangkan donk, panasnya kayak apa?
Nah kombinasi dua hal inilah yang menyebabkan dua orang rantau dari Yogyakarta ini mengalami halusinasi. Belum lagi mereka juga baru aja di “siksa” selama 8 jam harus ngisi soal2 tes. Fiuh, kondisi mereka saat itu bisa digambarkan dengan… bibir pecah-pecah, perut keroncongan, kepala snut2an, rambut acak2an, tapi bau badan tetep seger donk…

Halusinasinya mana?
Iya, ini baru mo di tulis… baiklah, halusinasi yang menjangkiti dua orang ini adalah perasaan rindu terhadap tempat mereka biasa makan. Bisa dilihat dari gambar, si ragil, yang biasa makan en minum di rumah sendiri, berhalusinasi en tanpa sadar merangkul sebuah sedan, dan berucap “Mbok, njalok wedang…” gambarnya klik di sini
Nah, yang satunya lagi, donlenon. Berhubung seringnya makan di angkringan, akhirnya doi berhalusinasi en memeluk seekor bus, sambil bilang “Pak Yanto, wedang jahenya nambah donk…” wah, wah, wah, di tempat nun jauh di sana pasti Pak Yanto, penjual angkringan, sedang bersin-bersin …gambar klik di sini

Sila ke-4

November 15th, 2007 by donlenon

Sila keempat dari dasar negara kita pancasila mengungkapkan bahwa, permusyawarahan mufakat merupakan langkah paling tepat dalam menyelesaikan suatu masalah. Sebenernya bukan karena saya seorang yang pancasilais atau apa sih, tapi kayaknya sila itu ada benernya juga, mo bukti, simak deh pengalaman si donlenon berikut ini…
Semua berawal saat saya mendapat kesempatan untuk menyambangi kota pahlawan Surabaya, dari sebuah peluang untuk berkarya di bidang jurnalistik. Sebenarnya saya belum terlalu berpengalaman bepergian ke sana, tapi berhubung ada teman yang menemani keberangkatan dari jogja, akhirnya kisah perjalanan itu pun tidak berlangsung terlalu “menyebalkan”.
OK cerita dimulai pada saat kami (saya dan seorang teman saya bernama witanto) menginjakkan kaki di surabaya, kami terdampar di stasiun Gubeng surabaya. Tujuan kami waktu itu adalah, masuk surabaya-segera mengikuti tes jurnalistik-keluar dengan sehat sentosa dari surabaya. Mungkin tujuan kami terkesan simpel tapi apa yang terjadi ternyata jauh di luar angan kami.
Saat pertama turun dari kereta, kami langsung disuguhi permasalah pertama. Karena sama2 gak tau jalan en arah, kami sempat bingung juga, mo naik apa ke JL. Ahmad yani (tujuan kami)? Untung aja saya teringat perkataan pak Sudiyono, dosen pendidikan pancasila saya, “Anak2! Ingat selalu dasar negara kita, Pancasila. Itulah pegangan hidup kita.”
Dan berbekal pesan dosen itu, akhirnya kami pun memutuskan untuk bermusyawarah mufakat untuk mendapatkan jawaban dari permasalahan kami itu. Namun, perundingan dua arah itu ternyata tidak semudah yang kami kira, setelah sekitar 15 menit bermuyawarah, ternyata kami tidak mendapatkan hasil. Kami pun akhirnya sepakat untuk menggunakan jasa arbitrase dengan bertanya pada seorang penjaga loket.
“Naek komuter aja..” sang Mbak Penjaga Loket (MPL) memberi saran.
Lalu di benak kami berdua (ya minimal di benak saya lah), terpampang pertanyaan besar, “Benda seperti apakah komuter ini?” Karena takut kelihatan udik, dan juga membesarnya perasaan malu untuk bertanya kepada MPL, akhirnya saya dan witanto pun hanya bisa kedip2 di depan MPL.
Mungkin karena sang MPL ini termasuk seorang yang jenius, dia pun tahu gelagat ke-udikan saya. “Itu nama kereta kok mas, tiketnya juga murah cuma duaribu perak,” katanya menerangkan penuh cinta kasih pada dua pelanggannya itu.
Hotel

Ooo, jadi komuter itu kereta to.. baru ngeh deh. Akhirnya kami pun berangkat ke JL. Ahmad yani naek komuter ini. Sesampai di sana, masalah lain pun muncul kembali, kita bakal nginep di mana? Nah, kembali perundingan dua orang ini terjadi (antara donlenon si orang udik dan witanto sang petualang). Setelah melalui serangkaian penggunaan hak kasasi dan peninjauan kembali, akhirnya diputuskan bahwa kami bakal bermalam di sebuah hotel. Eits, mendengar kata hotel jangan dikira bakal ada kamar ber-AC, kamar mandi bersih atau segala fasilitas yang wah. Coba aja lihat kondisi “hotel” kita ini.
Berhubung cuma ada satu hotel ini dan cekaknya doku kami, akhirnya sebuah kamar berukuran 2X3 pun menjadi tempat bermalam kami. Nah, terbuktikan bahwa musyawarah merupakan hal yang tepat untuk menyelesaikan masalah. Ingat selalu apa yang diucapkan Pak Sudiyono (diucapkan seperti iklan, “Percayalah apa yang dikatakan Rudi!”).

PENTHOL DAY, THE 2ND EDITION

November 1st, 2007 by donlenon

Kita lanjutkan cerita kita mengenai petualangan Donlenon, Aan, dan si Eko di kota macan, Jajag. Di Jajag ini, kami singgah di rumah salah satu temen kami yang cukup populer, bernama Kang Pon (nama ini sebenernya nama bokapnya, dan hal itu sering membuat kami salah panggil kalo pas maen ke rumahnya. Maksudnya mo manggil si junior, eh yang nengok malah yang senior..).

Dan seperti kebanyakan teman lama yang berkumpul setaon sekali, kami pun menghabiskan banyak waktu ber-chat ria. Eh Tiba2, chat kami dikejutkan dengan datangnya sanak family Kang Pon yang berkunjung di rumahnya. Tentu kedatangan sodara2 Kang Pon itu, menyebabkan kami tergusur dan mau-tidak-mau pindah.

Ternyata kepindahan kami membawa berkah. Setelah tidak berada di ruang tamu, kami malah mendapat suguhan yang sudah tidak asing bagi lidah kami… Penthol. Iya penthol, namun kali ini penthol-penthol ini made in Kang Pon sendiri, alias buatan sendiri. Dan dengan riang gembira, Donlenon, Aan, n Eko Jumper pun menghabiskan suplai penthol itu dengan ditemani saos dan kecap dalam jumlah banyak. Nggak tahu karena kesambet jin apa, tapi saking rakusnya penthol satu baskom kami habiskan bertiga.

Setelah asupan penthol membuat perut kami mengembang. Kami leyeh-leyeh sambil liat Tipi yang pada saat itu lagi nayangin Live GP Australia. Berhubung kami dulu pernah jadi temen SMP, kami pun menerapkan metode SMP dalam bertamu, wich is Sudah Makan Pulang. Dan (lagi-lagi) si Kang Pon pun tak luput dari penculikan kami. Sehingga bertambahlah jumlah pengikut perjalanan kuliner hari itu, Donlenon, Aan, Eko, n Kang Pon.

Ranggon, The Conclusion
Rencana perjalanan selanjutnya sebenernya banyak banget, tapi berhubung kurang hoki ato memang belum jodoh, banyak rumah yang kami singgahi berakhir tidak berpenghuni alias kosong di tinggal bersilaturahmi, ya sebut aja rumahnya Tarom, T-nyom, ampe rumah bu Endang guru Matematika juga sepi jali.

Kunjungan kami pun berlanjut ke Ranggon (ini bukan ibukota Myanmar, tapi sebuah desa yang berada di utara kota Genteng, Genteng ini juga bukan nama bahan bangunan, tapi nama kota). Di Ranggon ini kami mampir ke rumahnya Joko (temen SMA yang punya band bernama mirip ama obat pembersih bagian kewanitaan, Absolute). Di rumah si Joko ini ternyata dah berkumpul banyak orang, sebut aja si T-nyom yang rumahnya kosong eh ternyata doi maen ke sini, trus ada juga Dina (yang sekarang dah jadi guru sejarah di beberapa SMU di Malang) ma Fariz (seorang mahasiswa design grafis ISI yang kebetulan mudik en bercita-cita memunyai studio grafis sendiri).

Penthol_licking_day
Nah pas kita-kita pada dateng, ternyata di rumah si Joko ini anak2 sedang disuguhi sesuatu oleh sang tuan rumah. Kalo melihat dari wajahnya, keliahatan banget kalo anak2 lagi merasakan kenikmatan dunia. Wah jadi penasaran pengen tau, “Lagi pada makan apaan sih?” Dan rasa keingintahuan itu berakhir dengan penyesalan mendalam, lantaran hal yang disuguhkan sudah sangat tidak asing (dan kemungkinan menjadi kandidat pengganti ketupat di lebaran-lebaran mendatang)… Penthol maning, penthol maning. “Aduh, tidak adakah makanan lain di dunia ini?!” begitu pikirku, dalam hati tentunya.

Dan serta merta, si tuan rumah, Joko tanpa tendeng aling-aling segera menawari kami2 yang baru datang. Saya pun menanggapi tawaran itu dengan sunggingan senyum kecut, mo gimana lagi, kalo misalkan ada pengukur kadar ke-pentol-an di rumahnya si Joko, tentu kami dah termasuk orang2 yang melampaui ambang batas.

Karena ajakan Joko yang sangat menyentuh hati dan prinsip hidup saya yang berbunyi “Pantang menolak rejeki”, walhasil saya pun mengiyakan ajakan menikmati benda bulet-bulet anget itu. Namun karena merasa perut udah gak bisa kompromi, saya pun hanya makan sebiji penthol dari piring-nya si T-nyom. Sesudah itu dengan mata orang cacingan en gerak yang terbatas (lantaran kekenyangan), saya terpaksa menolak dengan halus tawaran makan-makanan yang lain.

Acara di rumahnya si Joko, kami lanjutkan mampir di rumahnya T-nyom. Dan di rumah terakhir ini, saya dapat meresapi betul arti lagu kebangsaan kita “Indonesia Raya, Merdeka.. Merdeka…”, lantaran tidak adanya suguhan berupa benda bulet en anget berserta kuahnya… (conclusion: 14 Oktober = Penthol Day)

Penthol Day

October 22nd, 2007 by donlenon

Hai, waz up everybody? Lama tak bersua. Taqoballahu minna wa minkum ya. Wuih, sejak terakhir nge-post, banyak juga hal yang saya lalui, semisal jalan2 keliling pulau jawa, berkunjung en ngutil roti di markasnya Gramedia majalah (kebon jeruk), ampe bertemu kawan-kawan lama di kampung halaman. Dan berhubung ini post perdana setelah lebaran, kita bercerita tentang lebaran aja lah. Dan seperti lebaran yang sudah2, tentunya bukan hal yang aneh kalo lebaran kali ini juga di warnai dengan acara yang aneh-aneh…

Hal yang aneh ini berkaitan dengan judul post kita kali ini, “Penthol Day”. Perihal di balik penamaan ini adalah peristiwa yang saya lalui (secara mengenaskan di hari raya), yang berhubungan erat dengan penthol-mementhol. Cerita ini mungkin bakal lebih tepat jika di masukkan ke dalam kategori pengalaman kuliner.

Eko Jumper, The Beginning
Cerita berawal dari kunjungan si aan, yang sekarang dah jadi makelar pulsa dan juragan PS2, yang berkunjung dan segera “menculik” saya dari kewajiban menjaga toko (sebagai anak pengusaha, saya sudah diwajibkan menjaga toko sejak akhil baligh). Dan perjalanan yang bertepatan dengan perayaan silaturahmi hari lebaran itu, dimulai dengan berkunjung di rumah si eko widodo alias jumper a.k.a landon asher baker wannabe. Di rumah si eko ini kami beruntung masih mendapat tempat duduk, sebab pas kita (aan dan saya) datang, keluarga si eko pada tumplek blek maen semua di rumah ortunya di pedotan (pedotan itu nama desa lho, bukan kata sifat). Untuk sekedar informasi saja, pas kami dateng, si empunya rumah alias si eko aja lagi nyempil di sudut ruangan, duduk di atas pantatnya sendiri lantaran gak dapet kursi (pas di tanya sih katanya sekalian nemenin ponakan2nya yang lagi maen PS).

Dan kami pun tanpa terasa menyelami masa lalu dengan ngobrol ngalor-ngidul, sampai suatu ketika terdengar suara ketokan piring, thing.. thing.. thing.. dari seberang jalan. Setelah celingak-celinguk ternyata penjual bakso lagi mejeng menjajakan barang dagangannya. Dan sebagai seorang tuan rumah yang baik, si eko langsung memberikan tawaran pada kita2, apakah mau menggunakan jasa si tukang bakso? Tanpa pikir panjang, aan dan saya pun segera meng-iyakan tawaran yang cukup menggiurkan ini. si abang bakso pun segera di panggil, “Bakso.. Bakso..” mungkin lantaran merasa bukan namanya yang di panggil, si abang tukang bakso, masih asoy geboy aja jalan terus. Baru setelah si eko ampir menghabiskan cadangan oksigen di paru-parunya, si tukang bakso baru ngeh, kalo ada orang yang mo menggunakan jasanya.

Segera setelah itu bakso pun segera tersaji di hadapan kami. Meski begitu sempat terjadi diskriminasi SARAF (Suku, Agama, RAs, dan Fisik) yang berlangsung. Mungkin karena iri merasa kurang kece dari si donlenon ini, si tukang bakso “melayani” saya di urutan terakhir. Dan hasilnya saya hanya mendapatkan sebuah mangkok berisi bakso 3 buah, ma mie bejibun, itu doang… LHA TERUS SENDOKNYA MANA?! Setelah di tanya baru si tukang bakso senyam-senyum bilang, “Waduh mas, sendoknya sold out ni.” Dan ampir aja aku memutuskan untuk menyantap makanan bulat nan panas itu dengan barehand ato bahasa gaulnya Muluk, sebelum akhirnya adik eko yang rambutnya di rebonding, memberikan bantuan berupa seperangkat alat makan, sendok dan garpu.

Penthol
Untuk pertama kalinya pada hari itu kami melalui pengalaman dengan benda yang bernama penthol. Setelah puas menghabiskan semangkok penthol beserta setengah toples kacang bawang, en 3 gelas es nutri sari (or was it marimas?!), giliran aan dan saya yang “menculik” si eko dari rumahnya. Dan perjalanan hari itu kami lanjutkan ke rumahnya si namzax (anak super pendiem yang dulunya suka banget ama musik punk, sekarang lebih cenderung ke musik2 pop romantis sebangsa savage garden, john mayer, nsync). Di rumah si namzax ini saya sempat terkejut melihat rini (istrinya namzax) udah menthol alias bunting. Ternyata setelah dikorek keterangan, si rini dah mengandung 7 bulan dan jabang bayinya diprediksi berjenis kelamin laki2.

Kami (sekarang saya, aan, dan eko) tidak menghabiskan banyak waktu di rumah namzax, bukan lantaran gak ada makanan yang disajikan, tapi lebih kepada alasan etika. Kami menganggap suasana kurang kondusif bagi kami yang anak2 muda (dan masih berstatus bujangan lagi), berlama-lama berkunjung di rumah mertua pasangan penganten baru. jadi kami pun segera ‘check out’ dan melanjutkan perjalanan kami hari itu. The next destination… Jajag, kota macan (disebut begitu, berhubung di tempat ini banyak patung macannya).

Lalu bagaimana kelanjutan petualang donlenon, aan, dan eko di kota macan? Temukan jawabannya di post edisi selanjutnya… ^_^

Off we go..

September 3rd, 2007 by donlenon

Sebuah istilah mengatakan "Pengalaman merupakan guru yang terbaik", atau kalau anda termasuk anak gaul, maka anda mungkin lebih mengenalnya dengan "Experience is the best teacher". Hmmm, Bukannya mau sok beristilah sih, tapi kayaknya kata itu yang paling bisa menggambarkan peristiwa yang dialami oleh donlenon beberapa hari yang lalu…

Semua berawal dari dibukanya kesempatan mengabdi pada sebuah departemen pemerintah, yang pada akhirnya membangkitkan naluri ke-warganegara-an si donlenon untuk ikut ambil bagian dalam menyemarakkan terbukanya kesempatan itu.

Dan pas hari Rebo, tanggal 29 Agustus 2007, merupakan tonggak awal dari perjalanan yang cukup bersejarah bagi kehidupan donlenon, soalnya bertepatan dengan hari itu pemeran utama kita ini memutuskan untuk berangkat menggapai cita-citanya (cie, sok mendramatisir nih…)

Baiklah, kita kembali pada istilah diatas, "Pengalaman merupakan guru yang terbaik". Kalo dipikir-pikir ada benernya juga sih istilah itu, kalo kita belon punya pengalaman, biasanya kita bakalan sering ngelakuin hal-hal yang gak jelas. Mau bukti?! Liat aja perjalanan perdana donlenon CS Naek Kereta Api (KA) dari Lempuyangan ke Gambir yang sarat dengan pengalaman. (Dan saking lengkapnya, kayaknya pengalaman itu ampe bisa dimasukkan pada buku panduan naek kereta yang baek dan benar berjudul "101 Train guide" deh.) Dan berikut ini merupakan 2 Guide/pedoman terbaik dari sekian banyak pengalaman selama perjalanan yang menegangkan itu…

Guide 1: Kalo misalkan anda naek KA (terlebih kelas ekonomi), jangan pernah sekali-kali mencoba untuk datang telat…

Keterangan: Ya, walaupun mungkin kita pernah mendengar sebuah lagu dari Iwan Fals mengenai kereta api yang liriknya berbunyi "dua jam terlambat itu biasa"… kayaknya istilah itu gak berlaku lagi bagi para masinis jawatan kereta api kita yang baru, soale kalo misalkan kita terlambat dikit, udah deh siap-siap aja ditinggal kereta.

Kalo gak percaya, liat aja betapa BT-nya wajah si Harits yang harus rela di tinggal kereta, demi menanti temen2nya yang belon pada datang. Untung saja KA di Indonesia masih menganut mahzab "Tiada Rotan Akar Pun Jadi", walhasil meski pun telat, kita masih bisa nuker karcis kita dengan karcis berikutnya. Coba bayangkan saja kalo KA kita menganut mahzab "Besar Pasak Dari Pada Tiang"?

Guide 2: Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, selalu sediakan jaket, slayer, ataupun alat-alat perlindungan yang laen (ya minimal sarung ma peci-lah..)

Keterangan: Sering terjadinya tindak kriminal berupa pemalakan (atau pemintaan uang secara paksa) di KA, menyebabkan banyak penumpang yang berwajah imut, mengalami gangguan selama perjalanan. Sehingga untuk menanggulangi hal tersebut, gunakanlah selalu alat perlindungan yang telah anda bawa untuk menutupi wajah imut anda. Lihat contohnya berikut ini

Bara di kedua mataku

August 25th, 2007 by donlenon

"Apa yang telah aku lakukan?" sebuah suara mengemukakan tanya.
"Memang apa yang terjadi?" suara yang lain menimpali.
"Aku kehilangan semua yang ku punya. Yang aku idam-idamkan. Belumlah aku puas memilikinya. Dia sudah hilang entah kemana…"
"Bukankah itu memang hasil dari kelakuanmu sendiri?"
"Tapi apa yang telah aku lakukan hingga aku layak kehilangan semuanya?"
"Tanya dirimu sendiri.."
"Yang aku tahu, aku tidak melakukan apapun yang menyalahi larangannya. Aku pun tidak pernah berbuat sesuatu hal yang sekiranya dia lihat, bakal membuatnya naik pitam.."
"Lalu?"
"Kenapa hal semacam ini bisa menimpa padaku…"
"Mungkin itulah jawaban dari semua hal yang telah kau minta…"
"Tapi bukankah aku selalu meminta hal yang terbaik?"
"Justru karena kau meminta yang terbaik, apa yang telah kau miliki itu menghilang. Apa kau punya jaminan bahwa kepunyaanmu yang hilang itu sudah yang terbaik?"
"…….."
"Bukankah engkau sendiri yang meminta, apa yang kau miliki itu harus bisa mententramkan mata dan hatimu? Lalu kenapa kau sekarang meraung, meronta mempertanyakan hal yang engkau inginkan?"
"Tapi aku tak rela… Hal yang sangat aku inginkan hilang begitu saja…"
"Janganlah berkata seperti itu. Bukankah sudah memiliki yang terbaik…"
"Mana? Mana? Sejauh mata memandang, segala yang aku miliki telah diambil…"
"Apa kamu tidak melihatnya?"
"Mana?! Hah, jangan banyak bicara kau!?!"
"Sungguh kau tidak melihatnya?"
"Sudahlah hentikan kicauanmu itu… Persetan, Apanya yang terbaik, hah?!"
"Apa kau tidak melihatnya? Bukankah engkau memiliki mata, yang dengannya kau bisa melihat keagungan-Nya. Engkau masih memiliki telinga, yang bisa mendengar syahdu senandung-Nya. Bukankah kau punya mulut, yang bisa kau gunakan menyebut indah Asma-Nya. Tangan yang dengannya kamu bisa meraih rizki-Nya. Bukankah kau memiliki kaki yang dapat membawamu menuntut ilmu dan beribadah pada-Nya. Maka, nikmat yang manakah yang akan engkau dustakan?"
"……….."

Seketika hening menyelimuti seisi kamar itu. Tak terasa dari kedua matanya deras mengucur air laksana gemercik niagara. Tampaknya bara di kedua matanya telah meleleh menjadi titik-titik embun di atas hamparan sajadah.

WD. Pasa Sulendra
11 Syaban 1428 H

Fisik + Perayaan Berbau Fisik = Implikasi Fisikis

August 19th, 2007 by donlenon

17-an menurutku selalu identik dengan fisik. 62 tahun = merdeka secara fisik. Dirayakan dengan lomba-lomba berbau fisik, macem balap karung, makan kreupuk, ampe jalan sehat. Fisik + Perayaan Berbau Fisik = Implikasi Fisikis?? Nah pada bingungkan?! Pak RT aja ampe ketipu kok ama saya. Begini ceritanya…

Arisan RT, Sebuah Prolog…

Berawal dari arisan RT malem jum’at kliwon tanggal 26 Agustus 2007. Pak RT 19 pakuncen (yang punya nama mirip pemain bola, Yajid Udin Zidane, he he he), mentitahkan sebuah maklumat untuk warganya,

“Untuk memperingati 17-an kita akan mengadakan jalan sehat bersama…”, bersamaan dengan saat itu pula dimulailah sebuah penjelasan mengenai aturan dan tata cara gerak jalan, yang mengakibatkan si donlenon gak connect. Walhasil apa yang dibicarakan panjang lebar oleh Pak RT dengan serta merta menguap seiring dengan menguapnya teh manis yang dihidangkan di depan donlenon…

Tirakatan…

Seperti kebanyakan RT di Jogjakarta, tiap malam kemerdekaan (yang pada saat itu lagi-lagi bertepatan dengan malem jumat) diadakan kumpul-kumpul bersama yang biasa disebut dengan tirakatan. Isi acara ini sih kebanyakan mengenang jasa para pahlawan dan para proklamator Negara kita. Awalnya si donlenon ini amat sangat semangat mengikuti acara ini (apalagi pas nyanyi lagu Indonesia Raya, pokoknya gak mau kalah deh dengan cucu-nya pak Bibit). Tapi pas udah masuk pembacaan sambutan walikota, nggak tahu kenapa tiba-tiba suasana kok bisa berubah menjadi ngantuk ya? Saking ngantuknya ampe hal yang perlu di bawa pas jalan sehat jadi gak mudeng alias gak paham.

Cuma sekilas denger-denger sih suruh membawa sesuatu yang lagi-lagi berhubungan dengan benda secara fisik, which is nasi putih di bungkus sebanyak 3 buah. Kurang fisik apa coba, udah nasi putih, dibungkus, pake embel-embel minimal 3 buah lagi. Kalo udah bekerluarga sih gak masalah, lha ini jejaka lapuk yang tinggal sendirian di tanah perantauan disuruh masak nasi pake dibungkus tiga lagi… What could be worst coba T_T

Akhirnya, di Malem minggu kelabu tanggal 18 Agustus 07 (sehari sebelon hari-H), tepat jam 23.18 malem si donlenon ngebela-belain nanak nasi buat berpartisipasi dalam perayaan kemerdekaan. Ditunggangi oleh semangat para proklamator, si donlenon menanak nasi dengan segala curahan keringet dan keesokan harinya… voila.. jadilah 3 bungkus nasi putih ala jejaka kesepian yang sangat menggugah selera.

Jalan sehat sebuah Epilog…

Dan acara yang di tunggu-tunggu pun berlangsung dengan penuh ceria. Jalan sehat kali ini mengambil rute Wirobrajan-Singojayan yang ditempuh dalam 4 etape. Bersama dengan Mas Anes, Ndaru, Pak Arif dan Oman, si donlenon ini mengikuti jalannya acara dari barisan belakang dan sukses melewati garis finis dengan sehat walafiat setelah diselingi acara ngegosip bersama bapak-bapak warga RW 04.

Setelah acara jalan2 selesai, tiba waktunya makan2. Demi melihat bergelimpangannya nasi bungkus, si donlenon pun gak ketinggalan turut berpartisipasi dengan senyum-senyum simpul. Karena tempat untuk makan udah pada penuh semua, akhirnya donlenon cs dapet tempat yang cukup istimewa which is makan di dekatnya pak RT ^_^

Pas bareng2 mbuka bungkusan… lho kok ini nasi pada beda semua ya?? Ada lauknya semua…

WAKWAW..

Saking ngantuknya pas tirakatan kemaren, jadi salah informasi deh.. harusnya yang dibawa pas jalan sehat itu nasi bungkus plus lauknya…

Dengan perasaan bingung dan bernafsu (untuk segera nyantap makanan) tiba2 terdengar celotehan seseorang dari arah samping..

“Bleh, ini kok Cuma nasi putih doank sih.. #@&*” (ctt: bahasa sudah mengalami translate ke bahasa gaul) setelah di tengok ternyata pak RT, terlihat sedang ngedumel sambil nenteng-nenteng nasi putih di bungkus..

waduh sambil dengan susah payah menelan nasi (karena perasaan bersalah) si donlenon segera memasang wajah innocent dan belagak gak mengenal buah karyanya itu… T_T

RT-sama, gomennasai?!

marhaenisme versi White Nigge

August 1st, 2007 by donlenon

"Sebagai seorang pengantar roll film, gue emang selalu dikejar-kejar waktu, tapi gue masih sempet untuk memperhatikan karakter-karakter orang yang dateng ke bioskop," ujar Nicholas Saputra bermonolog-ria dalam salah satu adegan Film Janji Jhoni.

Nah ampir mirip dengan penggalan kolom di nuansa kabar (koran kampus) di atas…

"Sebagai seorang "between job", donlenon selalu dikejar-kejar oleh waktu senggang (banyak nyante-nya maksude), meski kadang kalang kabut menghadapi padatnya waktu senggang, namun doi masih sempet-sempetnya memperhatikan karakter temennya yang lagi nginep di Yogya…"

P6020015_1
Eits, sebelum mulai membicarakan tentang karakteristik si doi, belon afdol kalo kita belon kenalan ma dia…

OK, kita mulai perkenalan anak kelahiran 1984 ini…
Doi bernama Aan (simple, mudah di ingat dan agak ke cewek2an). Doi merupakan salah satu dari sekian banyak temen donlenon, mulai dari SD, belanjut ke SMP, bahkan ampe SMA. Malah doi ini sempat bareng donlenon tergabung dalam serikat "Negatiff Creep", sebuah grup band lokal di Genteng.

Setelah skian lama gak ketemu ma doi, ternyata banyak juga yang berubah. Kalo dulu waktu jamannya SMP si aan ini suka di panggil "TJ", SMA dipanggil "de los rabitos", sekarang doi memproklamirkan nama barunya, which is Bendol Surono a.k.a "white_nigge".

Kembali ke masalah karakter, selama beberapa hari "kumpul kebo" ma doi, si donlenon ini udah bisa mengetahui beberapa karakter baru-nya…

1. Penyuka presiden Soekarno
Hal ini bisa dilihat dari betapa doi sangat memuja semangat marhaenisme. Tiap bangun pagi doi selalu bilang, "Mana semangat marhaenisme-nya ini?!". Bukan lantaran doi waktu SMA sempet naksir ma Ika Marhaen lho (temen SMA tetangga kos), tapi lebih dikarenakan doi merasa prihatin dengan hilangnya semangat marhaenisme di kalangan kawula muda (Waduh, kalo kita lebih lama mengungkap karakter pertama ini, saya yakin anda akan sekalian katam dengan buku Teori Pergerakan sosial-nya Robert Mirsel)

2. Kreatip
Cuma butuh dua hari buat si aan ini untuk mengeksplor kreatifitasnya dengan perantara Corel Photopaint. Dan hasilnya… Voila… Lihat aja kreasi-nya di sini

3. Mandiri
Waduh anak yang satu ni mandiri banget orangnya. Saking mandirinya doi bela-belain motong rambut sendri, cuplikan gambarnya dapat anda lihat di sini (diambil secara diam-diam tanpa sepengetahuan doi lho..)